Cerita Naik Dorkas di Pulau Gili Iyang.

Pergi jauh keluar kota,
lewati desa desa,
Pikiran segar hati jadi riang,
Duhai asyiknya….

Shaggy Dog – Jalan-Jalan

Lirik lagu diatas menggambarkan asiknya liburan ketika setelah berlama-lama bekerja. Sama yang seperti saya rasakan sekarang, asiknya liburan…yaaaaa walaupun saya gak kerja..hehehe :p

Saya bersama teman-teman blogger Surabaya lainnya diundang oleh teman-teman blogger Plat-M untuk berkunjung ke Pulau Giliyang, salah satu pulau di Pulau Madura yang memiliki kadar oksigen tertinggi hingga 4,8 persen. Saya bersama manteman janjian untuk berangkat bareng dari Terminal Bungurasih jam setengah 8. Tidak hanya dari Surabaya, ada juga teman dari Bojonegoro, yaitu Kak Didik, salah satu blogger hits tanah air dan Bapak Komunitas Bojonegoro serta dua teman lagi yang berasal dari Malang. Setelah bersua semua, barulah kita berangkat dengan Bis Patas AC tujuan Sumenep, Madura. Dengan biaya tiket Rp 58.000, perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih 4 jam, membuat perjalanan sedikit mengasyikkan, banyak muntahnya. Saya muntah dua kali, karena sudah lama sekali gak naik bis patas yang kecepatannya diatas rata-rata dengan goyangan bak pedangdut di kampanye-kampanye. Padahal sudah minum obat anti muntah, makan permen lolipop, yo sek tetep ae muntah, ancen ndeso kok.

img_20151129_204936.jpg

Di perjalanan, saya dan mas Rinaldi ngobrol soal penginapan, ternyata kita dibantu penginapan oleh seorang teman. Alhamdulillah, rejeki anak baru ngeblog. Akhirnya kita bisa tidur setelah perjalanan bergoyang-goyang yang membuat kepala pusing dan mual. Walaupun tidurnya sebentar, karena memang susah untuk tidur pulas, masih jetlag *halah*. Tertidur pukul 01.30, terbangun pukul 04.20 karena harus memulai perjalanan.

Setelah manteman Plat-M datang menjemput, kita berangkat ke Disbudparpora (Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga. cukup panjang namanya). Disana kita bertemu dengan blogger Plat-M lainnya sambil menunggu jemputan lain datang. Seperti biasa, manteman bloher Surabaya foto-foto dulu.. 😀

Berangkat menuju Pelabuhan Dungkek, untuk menaiki kapal yang sudah siap mengantar ke Pulau Giliyang dengan lama perjalanan kurang lebih 45 menit. Daaaaaannn….seperti orang pada umumnya dalam rangka menunggu sampai ke tempat tujuan, disunnahkan untuk foto bareng. Fungsinya apa? untuk mengisi konten di blog dan akun Instagram yang terkoneksi dengan Facebook dan Twitter tentunya 😀

Sesampainya di Pulau Giliyang, ternyata kapal tidak bisa sampai tepat di dermaga, karena laut masih surut, akhirnya sebagian manteman ada yang turun langsung, dan sebagian ada yang menaiki sampan berkapasitas 5-6 orang dengan biaya sewa Rp 1.000/orang. Di Pulau pun kita masih menunggu kendaraan yang akan mengantar keliling pulau. Tak lama kemudian kendaraannya pun datang, yak Dorkas. Dorkas yang biasanya di Surabaya dan sekitarnya digunakan untuk mengangkut galon, air mineral gelas serta elpiji ijo kayak android itu, di sini digunakan untuk mengantar kita-kita keliling Pulau Giliyang. Memang, jalanan yang ada hanya cukup dilalui oleh dua dorkas. Oh iya, jika hendak berkeliling Giliyang sendirian, dorkas ini disewakan seharga 125 ribu rupiah lengkap dengan supirnya.

image

Spot pertama di Pulau Giliyang adalah Spot Oksigen 1.
Spot ini terletak di atas bukit karang yang cukup tinggi, sehingga bisa melihat rumah penduduk di bawah serta laut yang indah dipandang. Katanya mas pemandu, oksigennya baru terasa ketika menginap semalam, karena kita tiba juga sudah terlalu siang, jadi ya kurang terasa oksigennya *sambil minum air beroksigen*.

Setelah dari Spot pertama, kita pindah ke Spot Kedua yaitu Gua Mahakarya atau disebut juga dengan Gua Celeng (inget ya, gua. bukan elu). Gua ini cukup unik, terletak dibawah bukit karang, yang pintu masuknya harus nunduk, layaknya rakyat yang memberi hormat kepada raja. Ternyata, di dalamnya cukup luas, cukup untuk bikin tenda dan main futsal *halah*. Banyak stalaktit dan stalagmit yang tumbuh liar sehingga membuat sedikit seram (bagi saya tentunya). Ada beberapa Stalakmit yang unik disana. Ada yang berbentuk keluarga, iya keluarga yang terdiri ayah, ibu dan 2 orang anak. Ada juga yang menyerupai kaki gajah, kepala naga, dan beberapa perupaan lainnya. Di dalam Gua Mahakarya ini sudah terdapat penerangan berupa lampu led yang bersumber dari cahaya matahari. Penerangan ini dibuat oleh mahasiswa ITS. Matur Suwun, yo cak!

1449073320

Pintu masuk Gua Mahakarya. foto oleh: mazecho.blogspot.co.id

Setelah dari Gua Mahakarya, kita melompat ke Spot ketiga, yaitu Pantai Ropet (ingat, namanya pantai ropet, bukan pantai repot. jangan salah tulis ya). Pantai Ropet bukanlah pantai yang berpasir seperti pantai pada umumnya, tapi lebih seperti tebing karang. Ya namanya juga tebing, pastinya sangat panas. Hal tersebut terbukti pada kulit saya yang tambah gelap dan belang kayak kucing. Namun, cuaca puanas tersebut tidak menghalangi saya untuk terus menjelajah pantai, eh tebing.

Setelah dari Pantai Ropet, kita menuju ke Betoh Canggeh (kalo salah nulis, kasih tau yak). Dalam perjalanan menuju Betoh Canggeh, kita beristirahat dulu di warung setempat sekalian beli air mineral karena panasnya cuaca membuat keringat bercucuran yang harus diisi ulang. Di sebelah warung, ada ibu-ibu yang sudah cukup sepuh, tapi masih kuat untuk bekerja. Ibu tersebut bekerja menumbuk kopi yang habis disangrai. Baru kali ini saya melihat kopi yang ditumbuk, biasanya pake mesin..hehehe. Selain Ibu penumbuk kopi, juga ada Ibu pembuat gula merah dari pohon aren. Pada saat itu, si Ibu sedang memasak gula dengan menggunakan tungku yang dibakar dengan kayu.

Kembali ke perjalanan menuju Betoh Canggeh. Dinamakan Betoh Canggeh atau dalam bahasa Indonesia yang berarti Batu Penyangga karena tebing satu ini memang disanggah oleh batu-batu yang berbentuk tiang, sehingga tampak menyanggah tebing ini, meskipun begitu, tebing ini cukup ngeri-ngeri-sedap-nan-ekstrim, karena curam dan langsung menghadap laut lepas.

abaikan modelnya. foto oleh: mazecho.blogspot.co.id

Dan beberapa foto dari Betoh Canggeh lainnya bisa dilihat di bagian album disini.

Setelah dari Betoh Canggeh, karena ini sudah destinasi terakhir, kita pun menuju ke dermaga untuk kembali ke pelabuhan dungkek. Sambil menunggu, tidak ada salahnya kita beli jajanan ala pulau Gili Iyang, tapi saya lupa namanya apa ini.

harganya 1.000 doang. rasanya manis, iya manis, kayak kamu :3

harganya 1.000 doang. rasanya manis, iya manis, kayak kamu :3

Selagi menunggu kapal dan makan jajanan tadi, di dermaga juga terlihat warga pulau Gili Iyang yang nampak sibuk mengatur jerami yang didatangkan dari pulau Jawa dengan menggunakan kapal. Warga membeli jerami dalam satu ikat seharga 9.000 Rupiah.

Perjalanan pulang menggunakan kapal di sore hari dengan angin laut yang sepoi-sepoi membuat beberapa teman tertidur lelap. Saya sendiri juga sedikit ngantuk, banyak nguapnya :p. Setelah tiba di pelabuhan dungkek, kita langsung menyantap makanan yang telah disediakan. Kegiatan dilanjutkan sore menjelang maghrib, jalan-jalan di taman kencana depan masjid agung sumenep atau masjid Jami’.

Sekian cerita jalan-jalan naik dorkas di Pulau Gili Iyang dari saya. Jika ada kesamaan cerita, tokoh, foto maupun peristiwa, mungkin itu hanya kejadian fiktif belaka.

10 comments

  1. Rinaldy says:

    Kurang …
    Pulang masih nginep semalem …

  2. Foto pas naik Dorkas mana yaa, . .

  3. Tatit says:

    Foto rame2 naik dorkasnya mana? 🙂

  4. Fauziah says:

    Semoga bisa segera kesana.. mksh liputannya

  5. ALAM says:

    Lho. Ini postingan lawas. Ketipu saya jadinya. Hehehehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *