Danau Tolire dan cerita-ceritanya.

Berkunjung ke Ternate, gak lengkap kayaknya kalo gak main ke Danau Tolire, ituloh danau yang kalo dilemparin batu gak nyampe-nyampe ke tengah danau. Untung banget pas kemaren ke Ternate bisa main ke Tolire. Danau yang letaknya sekitar 10 km dari pusat kota Ternate ini, berada di kaki gunung Gamalama. Uniknya, danau Tolire ini, terdiri dari dua buah, ada Tolire Besar (atau bisa disebut Tolire Jaha) dan juga ada Tolire Kecil.

Tolire Besar dan Tolire Kecil.

Ada beberapa versi cerita yang tumbuh di masyarakat tentang pembentukan danau Tolire ini. Yang pertama ada edisi tentang ayah yang menghamili anak gadisnya :

Danau Tolire Besar dan Tolire Kecil, menurut cerita masyarakat setempat, dulunya adalah sebuah kampung yang masyarakatnya hidup sejahtera. Kampung ini kemudian dikutuk menjadi danau oleh penguasa alam semesta, karena salah seorang ayah di kampung itu menghamili anak gadisnya sendiri.

Saat ayah dan anak gadisnya yang dihamili itu akan melarikan diri ke luar kampung, tiba-tiba tanah tempat mereka berdiri anjlok dan berubah menjadi danau. Danau Tolire Besar dipercaya sebagai tempat si ayah. Sedangkan Danau Tolire Kecil diyakini sebagai tempat si gadis [wikipedia].

Versi kedua :

Versi yang lebih lengkap menyebutkan kalo si bapak adalah kepala suku dari desa yang dihuni lebih dari 1.000 jiwa tersebut. Ceritanya, suatu malam penduduk desa itu berpesta dan mabuk-mabukan. Barangkali ada yang lagi ulang tahun atau abis menang lawan prajurit Romawi. Saat pesta usai, kepala suku yang sudah teler berat ini masuk ke rumah lalu ‘nganu sama anaknya. 

Ketika subuh tiba, terdengar kokok ayam sebanyak tiga kali. Salah satu nenek penghuni desa ngasih pengumuman ke warga kalo itu pertanda bahwa desa mereka akan tenggelam, entah dasar pemikirannya dari mana. Mungkin karena hipotesis si nenek tidak memiliki dasar yang kuat, warga desa cuek dan tetap bobok. Tiba-tiba, dari samping rumah kepala suku mendadak keluar air yang sangat banyak. Warga panik! Kepala suku lari keluar rumah, lalu menginjak mata air yang sedang menyembur dengan derasnya itu. Bukannya berhenti mengalir, tanah di sekitar mata air langsung amblas lalu air bah mengalir menenggelamkan desanya seketika.

Jadilah danau Tolire Besar dan kepala suku beserta warganya tenggelam semua. Melihat kejadian itu, anak kepala suku melarikan diri ke arah pantai. Sayang, dalam perjalanan tanah yang dipijaknya juga amblas, maka terciptalah danau Tolire Kecil.

Versi dari Ekspedisi Kompas, Hidup Mati di Negeri Cincin Api:

Pulau Ternate seluas 1.118 km2 ini sejatinya adalah bagian tubuh Gamalama, yang kakinya berada di dalam laut. Ketinggian gunung ini jika diukur dari permukaan laut hanya 1.715 meter. Namun, jika diukur dari dasar laut, ketinggan Gamalama mencapai 3.000 meter. Letusan Gamalama pernah terjadi di permukiman saat pembentukan danau Tolire Jaha (Tolire Besar) tahun 1775.

Tolire Jaha terletak di barat laut Ternate, berjarak 4 km dari puncak Gamalama dan 500 meter dari pantai. Petaka itu dimulai dengan gempa bumi beruntun yang mengguncang Desa Soela Takomi pada tanggal 5 September 1775. Desa ini terletak 1,5 km dari Kelurahan Takoma saat ini. Gempa tektonik itu memicu erupsi Gamalama hingga terjadi letusan uap panas selama beberapa jam pada 7 September dini hari. Suara gemuruh menyertai erupsi yang berlangsung hingga hari terang. Saat warga sekitar Desa Soela Takomi menengok kampung itu pada siang hari, mereka hanya mendapati lubang kawah yang menganga lebar. Sebanyak 141 warga desa hilang bersama tenggelamnya desa mereka.

Masih banyak lagi versi lain yang tumbuh di masyarakat Ternate. Tetapi, beberapa teman-teman yang saya tunjukkin foto Tolire, eh, mereka malah bilang danaunya bisa kayak gitu gara-gara kena “one punch‘ nya Saitama. *abaikan*

Danau Tolire adalah danau yang terletak di Ternate, Maluku Utara. Danau yang terletak sekitar 10 km dari pusat kota Ternate ini, selain bentuknya unik juga memiliki cerita legenda yang menarik. Danau Tolire berada di bawah kaki Gunung Gamalama, gunung api tertingi di Maluku Utara. Danau itu sendiri terdiri dari dua buah. Masyarakat setempat menyebutnya Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil. Jarak antara keduanya hanya sekitar 200 meter. [Wikipedia] Banyak versi cerita tentang pembentukan Danau Tolire ini. ada dua versi yang paling populer. Yang pertama cerita tentang sang ayah yang menghamili anak gadisnya sendiri. Sedangkan yang kedua, tentang meledaknya gunung gamalama, sehingga menyebabkan lubang besar dan menjadi danau. Menurut saya sih, ini bekas "one-punch" nya Saitama *abaikan*. Danau Tolire ini juga unik, dimana ketika kita melempar sebuah batu, sekuat dan sejauh apapun, pasti tak pernah sampai ke tengah danau. Hanya orang lain, yang berada di sisi danau lain yang bisa melihat kemana batu tersebut jatuh. Di Tolire ini, melempar batu juga sekaligus berlatih lempar jumroh, jadi biar gak kagok pas di tanah suci nanti 😜 selengkapnya baca disini 👉 http://wp.me/p7kPse-8P #droidlabs #droidnesia #yicam #ternate #danautolire #indonesia

A post shared by Mas Dito (@masdito_) on

 

Selain danau Tolire dengan cerita rakyatnya, ada juga side story yang juga populer di Danau Tolire. Menurut warga sekitar, di dalam Danau Tolire ada buayanya, yang pasti, buayanya bukan penjelmaan dari buaya darat yang dibuang sama kekasihnya  yang berwarna putih. Katanya sih begitu. Berdasarkan cerita, buaya tersebut merupakan penjaga dari Danau Tolire. Maka dari itu, pengunjung dilarang turun ke danau  untuk berendam, berenang, bahkan memancing di danau Tolire karena mereka percaya barang siapa yang mengganggu danau akan menjadi mangsa buaya putih.

Buayanya warna item malah. (foto oleh: http://regykurniawan.com)

Selain buaya tadi, di Danau Tolire juga ada aktifitas unik, yaitu melempar batu, yaaa semacam pelatihan untuk lempar jumroh di tanah suci kelak *eh*. Uniknya, sejauh dan sekuat apapun kita melempar batu, kita tak bisa melihat di mana batu kita tiba dan tanda air yang terciprat. Saya sudah mencoba, dan memang ternyata benar adanya. tak bisa melihat tanda batu tiba di permukaan air ketika  usai melempar. Setelah beberapa kali mencoba, tak sekalipun adanya tanda-tanda batu itu telah menyentuh air danau. Batu-batu tersebut bisa kita dapati di pedagang makanan & minuman setempat seharga Rp 1000/5 biji. Mungkin, lain kali bisa membawa batu dari tempat penginapan kayaknya…hehehe.

Untuk menemani melihat pemandangan yang apik, kita juga bisa menikmati es degan yang bisa dicampur dengan sirup atau gula aren seharga Rp 10.000. Saya kemarin pilih es degan dengan gula aren, dan rasanya sangat menyegarkan, apalagi sehabis melihat gerhana matahari total, panasnya emang nyengat sih…hehehe *liat kulit tangan*

Karena untuk menuju Danau Tolire ini gak ada angkutan umum, jadi kalo mau kesana dari tempat penginapan bisa carter mobil ataupun ojek. Kebetulan karena kemaren jadi Laskar Gerhana Matahari, jadi ya dapet gratisan lah…*dikeplak*

2 comments

  1. Nining says:

    Heh? Kok bisa yak batunya gk keliatan hmmmmm….tanah Tidore *eh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *