Masak bareng istri di Finna Foodies Competition

Gak pernah kebayang sebelumnya kalau saya bakalan ikutan lomba masak, apalagi sekarang sama istri. Dulu waktu masih bujang (sebut saja jomblo) saya seringkali masak nasi goreng buat saya sendiri. Sudah pasti bisa dibayangkan gimana hasilnya kan ya? kebanyakan micin saudara-saudara…hehehe. Kalau dulu seringnya ngebayangin lomba bareng istri itu lomba yang ringan-ringan semacam lomba 17an dengan juri tingkat RT. Kan semisal kalah, rasa malunya cuman tingkat RT aja.

Hari Minggu kemarin (21/1) saya sama istri pergi ke Food Junction Grand Pakuwon di Tandes. Mayan, deket rumah (mertua) jadi gak jauh-jauh..hehehe. Tujuannya bukan untuk main apalagi pacaran, tapi untuk mengikuti lomba masak tingkat influencer media sosial. Ada blogger, food blogger, youtuber serta Instagrammer. Ini sih udah bukan tingkat RT lagi. Kalau kalah malunya sedunia maya…wkwkwk.

Setiba di lokasi, saya bertemu dengan teman-teman yang sudah sering berjumpa. Ada om Rinaldi+istri, om Budiono, Yanto+istri, dan juga beberapa teman lainnya. Mereka yang sudah tiba dari tadi masih menunggu diluar karena food junction tersebut belum dibuka oleh petugas keamanan sebab belum masuk jam buka.

Setelah dibuka, kita langsung menuju stand registrasi untuk daftar ulang peserta dan juga memilih nomor meja. Setelah saya dan istri selesai registrasi, saya langsung mengocok nomor meja dan ternyata mendapat nomor 09. Setelah menerima guidelines dan celemek dari panitia, kita berdua langsung menuju meja untuk memilih bahan wajib untuk lomba masak itu. Ada dua bahan wajib yang telah ditentukan yaitu Krupuk dan Sambal. Ternyata ada banyak pilihannya. Kerupuknya ada kerupuk bawang dan kerupuk udang, sedangkan untuk sambal ada sambal terasi, sambal ijo, sambal bawang, dan sambal pedas. Untuk varian sambalado tidak ada karena memang tidak diproduksi :p.

Setelah icip-icip sambal (buseettt….) kita berdua memilih kerupuk udang, sambal bawang dan sambal pedas. Mengapa kita memilih produk tersebut? selain karena kerupuk udang yang rasanya nikmat dan sambalnya mantap, juga karena saya kurang sreg sama sambel ijo, kecuali di RM. Padang…hehehe.

Sambil menunggu peserta lainnya, saya dan istri secara bergantian membaca guidelinesnya yang pointnya cukup banyak dan juga memakai celemek dari Finna Food. Eh, celemeknya keren loh… 😀

Celemeknya kereeenn

Selagi masih menunggu, Chef Ken selaku juri juga mengecek bahan-bahan yang akan dibuat masak nanti di setiap meja. Tetapi, bahan masakan itu ditaruh didalam kotak styrofoam yang disebut dengan Mystery Box, nahloh…

Mystery Box

Beberapa hari sebelumnya setelah daftar lomba, memang tidak ada petunjuk apa yang harus dimasak oleh peserta lomba. Cukup membingungkan bagi saya berdua karena sudah gak bisa masak, bahannya gak dikasih tahu lagi. Ini yang membuat istri saya sedikit was-was, bingung, keringet dingin, bingung, jantung berdebar-debar tak karuan *halah* karena bingung mau masak apaan.

Peserta lomba memperhatikan arahan dari Chef Ken

Setelah semua peserta siap dan menempati meja masing-masing, Chef Ken dan Inijie -food blogger, food photographer, juri lomba- memberikan penjelasan apa yang harus dan tidak boleh dilakukan selama lomba nanti. Bahan yang sudah ada di semua peserta yaitu alfalfa (cambah bule), tomat cherry, daun seledri, jeruk nipis merupakan bahan yang digunakan untuk garnish masakan nanti. Setelah penjelasan selesai, peserta dipersilakan untuk membuka mystery box sambil terkaget-kaget dalam waktu 1 menit untuk kemudian memilih bahan masakan yang sekiranya tidak akan dipakai nanti ketika memasak.

Sambal bawang, sambal pedas dan kerupuk udang Finna

Alat masak

Saya sama istri saling bertatapan, mikir, ini mau masak apaan coba. Bahan yang saya dapat antara lain: Terong ungu, kol/kubis, kacang mentah, batang sereh, sawi, kentang, bawang merah, bawang putih, cabe rawit 3 biji, garam, gula, jagung, ikan tuna kaleng, sebotol air, dan terakhir minyak goreng. Kembali lagi kami diam, bengong, mikir masakan apaan yang mau dibuat dari nih bahaaaann cobaaa. Yang lain ada yang dapet daging ayam. Mungkin sang pemberi bahan untuk kita ingat pesan bu Susi menteri perikanan, “Yang gak makan ikan, tenggelamkan!”

Pose sebelum perang

Saya berinisiatif untuk membuat terong yang tengahnya diisi daging tuna dan irisan jagung, tapi hasil pemikiran selama 2 menit itu dibantah oleh istri saya,”mas kan gak ada telur sama terigu sih…” seketika saya sadar ternyata pemikiran saya tidak berfaedah. Setelah sekian lama debat sengit tapi agak mesra akhirnya diputuskanlah kita buat tumisan. Mbuh tumisan apa.

Dimulai dari menumis irisan bawang merah dan bawang putih. Selain biar wanginya harum dan terlihat oleh juri sudah ada kemajuan karena mulai memasak, juga biar bawang merah dan bawang putih tidak berantem lagi dan baikan selamanya. Setelah bawang-bawangan, terlihat tuna yang sudah terbuka kalengnya dan dimasukkan juga. Terlihat jagung yang sudah diserut, masukin juga. Apalagi hayo? setelah jagung, kita masukin sawi yang sudah dicacah kasar. Setelah itu kita tambah gula dan garam secukupnya. Supaya apa? ya supaya semua bahan kepake lah. Bukan supaya enak? enak nomer sekian, yang penting masakan kelar.

Masak bu?

Setelah semua bahan tadi masuk, masih ada kentang, kubis dan terong. Walhasil setelah masakan pertama tadi ternyata sudah cukup matang, kita gak bisa dong masukin kentang, kubis dan terong langsung. Masa iya gak ada training dulu. Kentang dan terong saya potong memanjang tipis supaya nampak seperti french fries, namun ternyata gagal. Tanpa babibu, saya goreng kentang dan terong yang ternyata lupa saya kasih air garam biar ada rasanya.

Setelah semua selesai, tinggal menggoreng kerupuk udang tadi. Ternyata eh ternyata, menggoreng kerupuk tidak semudah membalikkan sutil ketika memasak. Ketika minyak terlalu panas, maka kerupuk akan cepat mengembang dan cepat gosong pastinya. Ini yang membuat saya dan istri geregetan setengah mati. Yasudah, dengan kerupuk seadanya, saya plating masakan tadi didalam mangkok. Kenapa mangkok? biar kelihatan sedikit tapi masih cukup buat dimakan…hehehe. Dengan ilmu otak atik gatuk, platingnya selesai juga, tentu saja istri saya yang plating, saya sih bantuin do’a… ?

Saya liatin dulu nih…

Setelah selesai semua, tinggal nunggu giliran penilaian oleh juri. Saya juga lupa bawa obat sakit perut, takutnya juri setelah mencicipi masakan kita berdua, langsung sakit perut kan berabe. Hingga pada akhirnya juri tiba di meja nomor 09. Dengan melihat, menimbang, dan merasakan masakan kita, Chef Ken menilai bahwa terong seharusnya dimasak bersamaan dengan tumisan tuna di awal, sehingga terongnya lebih terasa bersama tuna, gak sendiri sendiri. Begitu juga dengan koh Inijie yang berpendapat sama dengan Chef Ken. Namun, ditambahkan dengan kalimat, “masakan ini terlihat sederhana, namun enak. Oh iya, ini nama masakannya apa ya?” terus saya jawab,”ini namanya Sambal Janda Tuna Pedas..”. Tak lupa kita pun foto berdua dengan Chef Ken dan koh Inijie.

Foto bareng dulu gan

Sambal Janda Tuna Pedas

Setelah selesai dinilai oleh juri, kita pun bergegas menuju photobooth untuk memfoto masakan yang sudah kita buat tadi sebagai bagian dari lomba itu. Dengan kemampuan hp jadul cekrek cekrek aplot, kita telah menyelesaikan satu persoalan yang cukup rumit di hari Minggu itu.

Selesai ishoma (istirahat, sholat, makan), saya kembali menuju meja saya tadi untuk menanti pengumuman lomba masak-memasak tingkat media sosial. Dengan detak jantung yang sangat biasa saja, karena saya juga dari awal sudah sangat yakin untuk tidak menang karena kita berdua memang tidak pandai dalam hal memasak. Tetapi, keyakinan saya tidak terbukti karena panitia menyebutkan nomor meja 09 sebagai juara ketiga yang artinya itu adalah kita berdua. Antara setengah kaget tidak percaya, saya langsung menggandeng tangan istri saya untuk menuju panggung. Selain saya, juga ada dua pasangan lainnya yang dapat juara di lomba ini. Juara satunya selebgram Surabaya loh. Selain juara masak, juga ada kategori foto terbaik dan tim terbaik. Selamat ya buat yang menang…yeaaayyy!!

Mantap bosque!

Para pemenang lomba. *abaikan yang disebelah kiri*

Selain dapat juara lomba, kita juga dapat goodie bag loh. Apalagi sambal dan kerupuk yang pilih tadi juga boleh dibawa pulang. Senang sudah di hari Minggu siang itu. Lega semua sudah selesai. Setelah acara itu, istri saya bertekad untuk belajar memasak lebih giat, dan saya terus mencari obat sakit perut yang lebih mujarab pastinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *