Hari pertama #MenduniakanMadura: Pantai Nepa & Hutan Kera

Selasa kemarin (22/11) saya berkunjung ke Madura untuk kedua kalinya, kali ini bersama manteman blogger dari berbagai kota di Indonesia untuk bersama-sama turut serta dalam #MenduniakanMadura, sebuah kegiatan yang digagas oleh komunitas blogger Plat-M dan BPWS (Badan Pengembangan Wilayah Suramadu). Hari itu, saya janjian sama Kak Didik, untuk bareng berangkat ke titik temu, yaitu kantor BPWS. Menunggu lama, kak Didik mengirim kabar bahwa bus yang ditumpanginya terkena macet, sehingga ada kemungkinan datang terlambat ke kantor BPWS.

Tak berselang lama, kak Didik berkabar bahwa sudah tiba di Terminal Bungurasih, langsung saja saya kebut menuju terminal. Setelah bertemu kak Didik, seketika langsung tancap gas menuju kantor BPWS di sebelah jembatan Suramadu sisi Surabaya. Karena waktu telah berkata lain, akhirnya kita ditinggal oleh bus yang berisikan teman-teman blogger lainnya. Akhirnya saya dan kak Didik dijemput oleh Zamroni, salah satu panitia acara tersebut dengan menggunakan mobil untuk menuju tempat selanjutnya.

Karena terlambat, naiklah mobil *abaikan Sayadi*

Karena terlambat, naiklah mobil

Dalam perjalanan menuju Bangkalan di dalam mobil, ternyata Madura menyimpan potensi yang cukup bagus jika dikembangkan sedemikian rupa, tentu saja dengan bantuan pemerintah dan warga sekitar, contohnya di Kecamatan Klampis yang merupakan Kawasan Khusus Madura. Menurut Vicky, panitia sekaligus tour guide #MenduniakanMadura, Kawasan Khusus Madura (KKM) di kecamatan Klampis nanti akan dibuat sebuah pelabuhan internasional yang mampu menampung banyak kapal dan mampu bersaing dengan pelabuhan internasional lainnya.

Kawasan Khusus Madura dalam RTRW Kabupaten Bangkalan masuk dalam Kawasan Pengembangan Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Modung Buluh Pandan yang merupakan kawasan strategis ekonomi. Pengembangan Kawasan Khusus Madura dalam menunjang kegiatan pelabuhan peti kemas diarahkan untuk kegiatan industri, pergudangan, perdagangan jasa dan permukiman. Kawasan khusus Madura perlu dikendalikan pemanfaatan ruangnya karena kawasan tersebut merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis dalam rangka mendukung pengembangan ekonomi dan wilayah Madura. Kawasan tersebut diarahkan untuk mendukung kegiatan pelabuhan yang diarahkan di Kabupaten Bangkalan dan diharapkan menjadi pusat kegiatan industri di wilayah Madura pasca adanya akses Jembatan Suramadu ke wilayah Madura.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Sampang untuk mengunjungi kawasan wisata Hutan Kera dan Pantai Nepa yang terletak di desa Batioh. Di desa Batioh ini kita menginap semalam untuk beristirahat.

Hutan Kera Nepa

Spanduk selamat datang blogger di Hutan Kera Nepa

Spanduk selamat datang blogger di Hutan Kera Nepa

Berbicara tentang wisata, di Sampang ada dua wisata yang berdekatan, yaitu Hutan Kera dan Pantai Nepa atau pantai Nipah. Pantai Nepa ini terletak di jalur pantai utara (pantura) Madura.  Jika kita menyusuri pantura, maka kita akan melewati sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan Banyuates, yaitu desa Nepa. Di desa Nepa inilah terdapat hutan yang dihuni kawanan kera ekor panjang.

Kera yang menghuni hutan ini cukup unik, karena kawanan kera tersebut terbagi dalam dua kelompok, yaitu sebelah utara dan selatan yang dibatasi dengan sebuah kayu yang dianggap sebagai tugu perbatasan, masing masing kelompok kera tidak akan mau melewati daerah perbatasan tersebut kecuali ada kera yang sakit atau membutuhkan pertolongan untuk melahirkan. Kera ekor panjang ini merupakan kera pemakan jagung tua yang mentah, selain itu kera ini akan menurut jika dipanggil oleh pawangnya dengan “mantra” tertentu.  Jika ingin berkunjung ke pantai dan hutan kera Nepa, pastikan bersama pemandu lokal agar tidak tersesat dan bisa mendapatkan informasi lebih tentang kedua wisata tersebut.

Pintu masuk hutan kera Nepa

Pintu masuk hutan kera Nepa

 

Pintu gerbang hutan kera Nepa

Pintu gerbang hutan kera Nepa

Pantai Nepa

Pantai Nepa sendiri tidak kalah menarik dengan hutan kera Nepa. Lokasinya yang dekat dengan hutan kera Nepa, menjadikan nilai tambah bagi pantai Nepa. Apalagi dengan pemandangan-pemandangan tidak biasa ini akan membuat para pengunjung merasa kagum. Pada sore hari banyak wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini untuk sekedar melepaskan penat ataupun menikmati panorama keindahan pantai Nepa.

Pasirnya bagus. cocok buat bangunan *halah*

Pasirnya bagus. cocok buat bangunan *halah*

Pantai nepa sore hari ppas mendung, *abaikan kak didik*

Pantai nepa sore hari pas mendung, *abaikan kak didik*

Jalan menuju pantai nepa dari homestay

Jalan menuju pantai nepa dari homestay

Fasilitas di Pantai dan hutan kera Nepa ini bagi saya masih belum memadai untuk sebuah kawasan wisata. Semisal tempat duduk untuk menikmati pemandangan bagi yang tidak ingin kotor duduk di pasir, tempat sampah agar kebersihan tetap terjaga, toilet bagi pengunjung atau papan informasi yang mungkin berguna bagi masyarakat sekitar dan pengunjung. Mungkin masih diperlukan sosialisasi lebih kepada warga sekitar agar ikut membangun dan menjaga kedua wisata tersebut yang nantinya secara tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan ekonomi di sekitarnya mengingat potensi wisata pantai dan hutan kera Nepa tersebut.

30 comments

  1. Evi says:

    Waktu acaranya tengah berlangsung saya yang mengikuti Life melalui hestek. Keren banget. Ternyata Madura tak hanya karapan sapi tapi punya juga pantai dan hutan yang bisa dieksplorasi. Semoga Madura semakin mendunia.

  2. Mira utami says:

    ganteng loh..wuakaka

    okelah tahun depan kesini lagi bawa anak..

  3. pasirnya bagus, cocok buat pacaran *halaaaah.

  4. Kang Pardi says:

    Kok pada hebat-hebat nulisnya ya… ane mantau dulu deh. 😀

  5. Ah senang bisa ketemu sama kk dito. Smoga bisa bertemu dtrip berikutnya y kk..

    • halodito says:

      sama sama mas Fajrin. senang bisa ketemu orang yang suka ngopi, bawa lagi…luar biasa!

      semoga bisa bersua di Lampung yo mas…hehehe

  6. Aya says:

    Kak Didik bodi oke

  7. Ndop says:

    Pingin ke sini lagi. Trus membangun istana pasir buat kita berdua #eh

  8. Nila says:

    Ah saya gak ikut masuk ke hutannya, akibat kelamaan di homestay.

    Tulisannya keren loh kak.

  9. Kok jadi kangen sama kejenakaan Kanjeng Dito 😀

  10. Molly says:

    Senang bisa ketemu denganmu, kaka Dito?

  11. Maz echo says:

    Ini peserta yg gak mau naik ke bis, maunya cuma di mobil panitia, hahahaaha

  12. Olaaa mas ditoo. #udahgituajah hihihihi

  13. Abd Rosyid says:

    Wah…wah…. kok aku baru ngeh kalau pintu gerbangnya sudah ganti, abis kemarin naek bis sih, jadi gak bisa clengak-clengok heheh…..

  14. hutan kera? aku belum pernah main ke madura 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *