Mengenal Dana Darurat

Di dunia ini tidak yang bisa memastikan apa yang akan terjadi di masa depan. Kita bisa saja menyiapkan segala sesuatu dengan baik dan terencana, namun siapa yang bisa mengira akan adanya kejadian yang tak terduga. Ketika kejadian yang tak terduga terjadi, itu akan cukup menguras isi dompet kita. Untuk menghindari hal tersebut, kita perlu mempersiapkan dana darurat.

Dana darurat adalah dana yang dipersiapkan khusus untuk menghadapi kejadian tak terduga/darurat. Namun perlu diingat, dana darurat ini berbeda dengan tabungan, tapi tabungan bisa dijadikan dana darurat. Jika tabungan bisa disimpan untuk digunakan kemudian dengan jangka waktu tertentu, sedangkan dana darurat hanya bisa digunakan ketika adanya sebuah kejadian yang sangat darurat dan membutuhkan biaya yang cukup tinggi.

Kebutuhan akan dana darurat sangatlah penting, sehingga kita harus menyiasati sebaik mungkin agar dana darurat terkumpul secara cepat dan banyak sesuai dengan kebutuhan.

Dana darurat yang perlu dipersiapkan idealnya adalah setidaknya cukup untuk biaya hidup 6 bulan kedepan. besaran dana darurat idealnya adalah minimal 10% dari penghasilan yang diperoleh setiap bulan atau kalau tidak bisa disesuaikan dengan budget yang ada. Dari situ kita bisa mengumpulkan dan darurat. Perlu diingat bahwa pos simpanan untuk dana darurat ini dijadikan prioritas setelah menerima penghasilan bulanan.

Besaran dana yang akan dikumpulkan bisa dari berbagai macam sumber, misalnya dari dana sisa penghasilan bulanan setelah dibagi ke pos-pos keuangan lainnya, bonus tahunan, penghasilan tambahan dari pekerjaan sampingan, dari hemat uang jajan untuk belanja online, atau uang rokok yang dikumpulkan didalam celengan ayam, ya sekaligus buat belajar berhenti merokok. Jangan lupa buatlah rekening tersendiri untuk dana darurat agar tidak mudah untuk diambil tanpa sadar, nanti tahu-tahu habis gara-gara khilaf belanja online.

Sebagai kaum pekerja, tentu saja uang yang ada sangatlah terbatas, apalagi jika kita juga ikut berinvestasi. Pertanyaannya, manakah yang harus didahulukan, dana darurat atau investasi? karena kita harus mempersiapkan kedua hal ini dan membutuhkan waktu dan dana yang tidak sedikit.

Sebenarnya dengan perencanaan keuangan yang baik, kita dapat memenuhi keduanya secara bersama tanpa ada prioritas diantaranya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membagi proporsi pos penyimpanan yang termasuk tabungan dan investasi.Sebagaimana yang disebutkan diatas, idealnya penghasilan yang disisihkan adalah minimal 10% dari total penghasilan bulanan yang ada. Karena kita akan membagi proporsi pos penyimpanan, maka porsinya masing-masing menjadi 5%.

Perlu diperhatikan bahwa dana darurat harus mudah diambil jika dibutuhkan. Ada berbagai alternatif yang dapat digunakan untuk menyimpan dana darurat. Mulai dari rekening tabungan biasa, deposito, logam mulai dan reksa dana. Selain tabungan dan deposito, reksadana juga bisa menjadi alternatif penyimpanan dana darurat. Sah-sah saja jika ingin menyimpan dana darurat di produk reksadana. namun pastikan produk yang digunakan adalah yang mudah dicairkan, seperti produk reksadana pasar uang.

Berikut beberapa alasan mengapa memilih produk reksadana pasar uang:

  1. Returnnya lebih tinggi daripada tabungan biasa.
    Jika di tabungan biasa hanya mendapat bunga sebesar kurang lebih 1% pertahun, berbeda dengan reksadana pasar uang. Produk ini bisa memberikan return hingga 6% per tahun. Angka ini tentu saja lebih menarik ketimbang bunga tabungan biasa.
  2. Dapat dicairkan dalam waktu singkat.
    Pencairan di reksadana, sesuai dengan peraturan OJK, apabila dilakukan sesuai dengan ketentuan adalah maksimal 7 hari kerja. Jadi ketika kita memutuskan untuk mencairkan, maka maksimal 7 hari kerja manajer investasi harus transfer ke investor.
  3. Bisa dimiliki dengan modal kecil.
    Produk reksadana seperti pasar uang ini bisa dibeli dengan modal Rp 100.000 saja. Maka, kita bisa mengumpulkan sedikit demi sedikit dan juga mendapatkan keuntungan tanpa menunggu memiliki banyak modal.

Namun perlu diperhatikan bahwa layaknya produk reksadana yang lain, reksadana pasar uang juga memiliki resiko dibandingkan deposito atau tabungan biasa karena termasuk instrumen investasi. Maksudnya adalah, harga reksadana pasar uang bisa mengalami penurunan jika harga obligasi turun. Penurunan ini bisa berlangsung beberapa hari. Meski demikian, layaknya tabungan atau deposito yang memberikan bunga, maka umumnya dalam waktu satu tahun reksadana pasar uang juga bisa memberikan keuntungan.

Dengan mempertimbangkan secara matang segala aspek kemudahan pencairan, biaya dan hasil pengembalian dari tabungan, deposito dan produk reksadana pasar uang, kita bisa mempertimbangkan tabungan dan reksadana pasar uang sebagai pilihan utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *