Sarapan di Madiun

Pukul 7 pagi, saya bersiap check-out dari tempat penginapan karena ditinggal oleh rombongan pak kapolda. Setelah semua siap, saya dan teman-teman langsung meluncur ke Alun-alun kabupaten Madiun untuk menghadiri pembukaan Napak Tilas Perjuangan Komjen Polisi Muhammad Jasin. Tetapi, sebelum itu kita sarapan terlebih dahulu di Kantor Bupati Madiun. Karena Madiun terkenal dengan nasi pecelnya, akhirnya saya memilih nasi goreng untuk sarapan, sungguh pilihan anti mainstrim.

Halaman belakang

Halaman belakang Kantor Bupati Madiun. ada Rusa, ayam dan juga Burung Merak. Super sekali!

Setelah sarapan dan ngobrol dengan rekan-rekan humas polda jatim, saya dan teman-teman bergegas menuju alun-alun untuk melihat gladi bersih pembukaan napak tilas tersebut. Jujur, saya merasa senang sekaligus bangga ada di acara seperti ini. Yang biasanya cuman bisa bengong di depan lapangan sambil makan pentol, sekarang bisa melihat langsung.

Di lapangan, saya dengan teman saya Candra, sibuk mengambil gambar kegiatan gladi bersih tersebut. Beberapa tampak sibuk dengan gladi bersih, sebagian lagi ngobrol dengan temannya. Setelah gladi bersih selesai, acara tak lama dimulai, semua peserta bersiap di tempatnya masing-masing. Tak lama, Pak Kapolda, IJP. Anton Setiadji yang diawali dengan kedatangan pak Bupati H. Muhtarom menuju alun-alun untuk memulai acara.

Upacara pun dimulai. Pak Kapolda selaku Inspektur upacara langsung menuju tengah lapangan, sedangkan pak bupati langsung menuju tempat duduk beserta jajarannya.

img_20160118_075929.jpg

Pak Bupatinya yang pake Jas abu-abu.

Upacara berjalan dengan lancar. Kemudian ada pula pembacaan riwayat hidup Alm. Komjen Pol. (Purn) DR. H. M. Jasin. setelah itu, Pak Kapolda mulai berpesan kepada seluruh jajaran kepolisian bahwa momentum seperti ini dapat digunakan sebagai wadah melestarikan perjuangan almarhum Komjen Pol. Moehammad Jasin sebagai abdi negara yang mengayomi dan melindungi masyarakat. Setelah Pak Kapolda memberikan pesan dan sambutan, upacara dilanjutkan hingga Pak Kapolda meninggalkan lapangan dan bergabung bersama jajarannya di tribun.

Acara dilanjutkan dengan berbagai gelar kesenian. Dimulai dari Seni Tari yang diiringi Tim Paduan Suara dari SMA Negeri 4 Madiun pimpinan ibu WAHYU ASTUTI BUDI selaku kepala sekolah. Beberapa lagu daerah menjadi pengiring tarian tersebut, diantaranya “Manuk Dadali” dan lagu “Pecel Madiun”. Selain tarian, ada juga aksi drumband, berbagai aksi beladiri yang terdapat di Kota Madiun dan ada juga Reog Manggala Bhayangkara yang langsung dibawahi oleh Polres Ponorogo. Saya sendiri kagum dengan aksi reog ini, dimana seluruh personilnya merupakan anggota polres Ponorogo, terdiri dari polisi dan polwan. Selengkapnya tentang Reog Manggala Bhayangkara ini akan saya sampaikan di tulisan selanjutnya wenaaaakkk.

Kegiatan pagelaran kesenian pun ditutup dengan pelepasan balon yang biasanya diiringi dengan sirene, tapi untuk acara kemarin tidak ada sirene, karena telat. Kemudian dilanjut dengan pemberangkatan Peserta napak tilas yang diikuti oleh brimob kurang lebih 45 orang. Pak Kapolda sendiri turut serta di belakang barisan Brimob hingga depan kantor walikota Madiun Rombongan napak tilas ini juga diiringi oleh Tim Drum Band dari SMP 2 Madiun.

Setelah rombongan napak tilas berjalan jauh, saya beserta teman-teman lain segera menuju Balai Kota Madiun untuk menjemput Pak Kapolda sekaligus langsung beranjak menuju Polres Nganjuk. Dalam perjalanan kali ini, saya disupiri oleh Candra yang juga masuk dalam kawalan patwal lak yo mbois tenan ngene iki... Di Polres Nganjuk sudah ramai anak-anak SD, SMP dan SMA yang akan menyambut kedatangan peserta napak tilas yang akan melewati Polres Nganjuk ini. Tak lupa pula ada komunitas sepeda tua yang akan mengiringi peserta napak tilas hingga padepokan di alun-alun Nganjuk.

Pak Kapolda juga menyampaikan permohonan maaf kepada jajarannya dan warga apabila terganggu dengan adanya acara napak tilas ini. Permohonan maaf tersebut disampaikan juga kepada wartawan yang hadir untuk selanjutnya disampaikan kepada masyarakat luas.

Saya bersama rekan-rekan lainnya tidak mengikuti rombongan kapolda lagi, jadi perjalanan pulang ke Surabaya berjalan normal, tanpa ada kawalan. Sedikit ngantuk dan tegang karena menggunakan mobil besar yang kekuatannya juga besar, sehingga harus berpegangan erat walaupun sabuk sudah terpasang untung aja gak muntah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.