Seharian berkeliling Kota Ternate

Beruntung bagi saya dan teman-teman lain yang terpilih sebagai Laskar Gerhana yang diadakan oleh detikcom, Sriwijaya Air dan Kemenpar untuk berkunjung ke Ternate, sebuah pulau dimana kita bisa melihat gerhana matahari total lebih lama dari kota lain yang dilewati. Cuaca yang sedikit mendung kala itu, tidak menyurutkan semangat untuk terus bertualang di Pulau yang disebut juga dengan Pulau Seribu benteng tersebut.

 

Setelah tiba di Bandara Sultan Babullah, para laskar gerhana langsung bertolak menuju Dhu’afa Center, sebuah gedung besar yang saya kira sering digunakan untuk keperluan acara masyarakat ternate. Di sana, kita disuguhkan nasi kuning, lengkap dengan lauk ikan khas Kota Ternate. Rasa yang sangat menggugah selera, jika diperbolehkan untuk menambah, mungkin saya akan mengambil 3 porsi :p. Selain nasi kuning yang nikmat, kita juga disuguhkan pemandangan laut luas dan Pulau Tidore di seberangnya, pemandangan yang saya kira belum pernah saya liat di Pulau Jawa. Setelah sarapan di Dhua’fa Center, seluruh Laskar Gerhana langsung menuju hotel tempat menginap untuk selanjutnya diberikan kaos khas laskar gerhana dan sedikit briefing apa yang akan kita lakukan di hari pertama.

Berjalan-jalan menggunakan mobil mengelilingi Kota Ternate yang berada di kaki gunung Gamalama yang menjulang tinggi dengan gagahnya. Seakan gunung gamalama menjadi penjaga Kota Ternate. Tujuan pertama di kota ternate adalah Benteng Castela atau juga disebut dengan nama Benteng Gam Lamo. Benteng yang memiliki pintu gerbang yang bertuliskan “Jou Se Ngofa Ngare” yang berarti “Aku dan Engkau”. Tulisan “Jou Se Ngofa Ngare” merupakan semboyan Kesultanan Ternate. Selain itu, juga ada lambang garuda berkepala dua atau Goheba Madopolo Romdidi yang berada tepat di atasnya. Lokasi ini merupakan lokasi dibunuhnya Sultan Khairun oleh Portugis setelah diundang makan malam. Kemudian Jenazah Sultan Khairun dibuang ke tengah laut. Peristiwa ini yang kemudian memicu perlawanan rakyat Ternate dibawah pimpinan Sultan Babullah, putra dari Sultan Khairun, sehingga orang Portugis hengkang dari Ternate.

 

Setelah dari Benteng Kastella, laskar gerhana bertolak menuju Danau Ngade yang memiliki nama lain yaitu Danau Laguna. Danau yang terletak di Desa Ngade ini memiliki panorama yang sangat apik dengan latar belakang Pulau Maitara, Sehingga jika ingin mengambil gambar danau Ngade dengan latar belakang Pulau Maitara, disarankan untuk mengambil dari tingkat yang paling tinggi.

Danau Ngade dari atas. #droidlabs #droidnesia #kamerahp #Ternate #JarangJalanMen

A post shared by Mas Dito (@masdito_) on

 

Kota Ternate dijuluki Kota Seribu Benteng, pasti tak lengkap jika tidak berkunjung ke Benteng Kalamata. Hal inilah yang membuat para Laskar Gerhana berkunjung ke Benteng ini. Benteng Kalamata memiliki bentuk yang unik jika dilihat dari angkasa, tapi tak perlu jauh-jauh ke luar angkasa untuk melihat keunikan bentuk benteng ini, cukup dari Google Maps, kita sudah bisa melihat bentuk benteng yang menyerupai bentuk burung. Benteng yang terletak di kelurahan Kayu Merah ini juga dikenal dengan nama Benteng Santa Lucia. Kata “Kalamata” dalam nama benteng ini, merupakan nama adik dari Sultan Ternate, yaitu Sultan Madarsyah. Dari atas benteng ini, kita bisa menikmati panorama alam ternate yang menyejukkan mata, apalagi jika bertemu dengan senja, saya rasa akan nikmat sekali rasanya.

IMG_20160308_124010

Anak kecil yang juga hadir di Benteng Kalamata. Lha, rumahnya mereka deket sama benteng..hehehe

IMG_20160308_124122

Salah satu gerbang Benteng Kalamata.

IMG_20160308_123642

Nampak kapal Feri dari sisi luar Benteng

Setelah jalan-jalan berkeliling kota Ternate, perut pun protes untuk diisi, akhirnya kita mengunjungi sebuah restoran untuk makan siang dan juga untuk talkshow tentang gerhana matahari total esok hari. Sebagai narasumber, ada Ibu Clara dari LAPAN, dari BAKAMLA atau Badan Keamanan Laut, dari Melanie Subono (ya, melanie subono) dan perwakilan dari Detikcom selaku pelaksana acara. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari peserta yang antusias untuk melihat gerhan keesokan harinya. Sambil menyimak penjelasan dan pertanyaan dari teman-teman, saya menikmati lezatnya papeda yang dipadu dengan kuah asam manis dan udang tepung yang membuat lidah ingin merasakan lagi.

Menjajal Papeda. Jangan suruh saya njajal gohu…ampun mz.. 🙁 #WisataGerhana #Ternate

A post shared by Mas Dito (@masdito_) on

 

Sore hari setelah talkshow, laskar gerhana diajak untuk snorkling di Pantai Sulamadaha. Sebuah pantai yang terkenal akan kejernihan airnya sehingga jika ada kapal yang mengapung, maka kapal tersebut akan nampak melayang. Tapi, sayang sekali, waktu berada di sana, cuaca mendung, sehingga tidak terlihat efek mengapung dari kapal tersebut. Mungkin itu merupakan petunjuk bahwa saya harus kembali ke sana nantinya. Selain snorkling, di pantai sulamadaha juga disuguhkan makanan yang bernama Pisang Mulu’ Bebek. Sebuah nama makanan yang mampu mengrenyitkan mata, namun bisa menyuguhkan rasa yang berbaur antara pisang dengan sambal dabu-dabu yang diulek, sehingga membuat ketagihan dan menambah hingga tiga porsi. Selain pisang mulu’ bebek, juga ada namanya minuman Air guraka. Sekilas terdengar seperti durhaka, namun bukan demikian. Air guraka merupakan air jahe rebus yang dipadukan dengan air gula aren dan potongan kacang kenari khas ternate. Sungguh paduan yang pas antara pisang mulu’ bebek dengan air guraka yang mampu menghangatkan badan setelah snorkling di pantai sulamadaha.

 

Keindahan Kota Ternate dan segala keanekaragaman alamnya tak cukup satu hari untuk dinikmati. Pada akhirnya, waktu pula yang memisahkan laskar gerhana dengan keindahan ternate, karena keesokan paginya diharuskan untuk berangkat melihat Gerhana Matahari Total.

 

Tulisan ini juga dimuat di Detik Travel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *